Rabu, 19 Maret 2014

Analisa "Five Freedom" Beruang Madu di Kebun Binatang Surabaya

     Beruang madu termasuk famili ursidae dan merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini adalah fauna khas provinsi Bengkulu sekaligus dipakai sebagai simbol dari provinsi tersebut. Beruang madu juga merupakan maskot dari kota Balikpapan. Oleh karena itu beruang madu adalah beruang kebanggaan Indonesia. Beruang madu terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Beruang madu hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian, mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 - 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk membuat sarang.
       Beruang madu adalah binatang omnivora yang memakan apa saja di hutan. Mereka memakan bermacam jenis buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman. Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya. Makanan utamanya adalah madu, sehingga hewan ini diberi nama “Beruang Madu”. Beruang Madu termasuk binatang nokturnal. Mereka lebih aktif di malam hari. Mereka juga termasuk binatang soliter atau binatang yang suka menyendiri. Kecuali beruang madu betina yang sedang mengasuh anaknya. Mereka menghabiskan waktu di tanah dan memanjat pepohonan untuk mencari makanan.Kecuali betina dengan anaknya, beruang madu umumnya bersifat soliter




Perilaku mencari makan yang lain seperti pembongkaran sarang rayap di tanah, kayu jabuk dan batang pohon hidup untuk mendapatkan madu, bermanfaat bagi jenis satwa yang lain pula. Banyak burung yang ikut memakan serangga apabila beruang sudah membongkar sarang atau kayu jabuk dan pembongkaran kayu menyediakan lobang di batang pohon yang sering dimanfaatkan satwa lain untuk berlindung ataupun berkembang-biak. Perilaku menggali dan membongkar juga bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat penting untuk hutan hujan tropis.         
Di Kebung Binatang Surabaya terdapat beruang madu. Yang akan kita bahas di sini adalah mengenai Animal welfare, apakah terdapat pelanggaran Five Freedom atau tidak. Cara untuk menilai kesejahteraan hewan dikenal dengan konsep “Lima Kebebasan” (Five of Freedom) yang dicetuskan oleh Inggris sejak tahun 1992. Lima unsur kebebasan tersebut adalah:
1.             Bebas dari rasa lapar dan haus
2.             Bebas dari rasa tidak nyaman
3.             Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit
4.             Bebas mengekspresikan perilaku normal
5.             Bebas dari rasa stress dan tertekan.

Apabila dilihat dari kandang beruang madu maka bias dinilai jika beruang madu di KBS tidak bebas mengekspresikan perilaku normalnya, seperti memanjat pohon dan menggali tanah. Dengan demikian bias jadi beruang akan merasa tidak nyaman. Bahan kandang yang terbuat dari besi dengan ukuran yang tidak luas juga bias melukai beruang. Padahal beruang setiap harinya bias berjalan sejauh 8 KM. Meskipun beruang Madu ahli dalam memanjat, tetapi memanjat pagar besi bisa sangat membahayakan keselamatan beruang madu, terlebih lantai terbuat dari semen keras.
            

            Dengan pertimbangan beruang madu membutuhkan wilayah jelajah yang luas, maka seharusnya pihak KBS membuat kandang yang lebih lebar. Konstruksi lantai kandang sebaiknya dibiarkan terbuat dari tanah. Tinggi kandang seharusnya dibuat lebih tinggi dengan diberi tanaman pohon di dalamnya. Habitat buatan yang menyerupai habitat asli di hutan akan membuat beruang merasa nyaman dan lebih bisa mengekspresika sifat alamiahnya yang aman bagi beruang madu dan pengunjung KBS. Namun bagaimana pun juga tempat yang layak bagi semua wild animal adalah di alam bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar